Sabtu, 27 Februari 2010

Menyambung Sillaturrahmi dan Shalat Malam

Ajakannya tak pernah mereka lupakan. Karena, ajakan itu senantiasa membawa kebahagiaan, kemuliaan, dan kuatnya ikatan persaudaraan. Tak ingin kehidupannya, dipenuhi dengan benih-benih yang menimbulkan retaknya persaudaraan. Persaudaraan diantara mereka. Sampai terbersit cahaya Islam, yang begitu indah, menghiasa kehidupan umat manusia.

Suatu ketika, Abu Yusuf Abdullah bin Salam mengatakan, bhwa ia mendengar Rasalulullah shallahu alaihi was salam, bersabda, “ Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah pada malam hari, ketika orang-orang sedang tidur, agar kalian masuk surge dengan selamat”. (HR.at-Tirmidzi)

Dan, ketika itu, orang-orang di Madinah, begitu menengadahkan wajahnya, dan memandang Rasulullah shallahu alaihi wassalam, saat beliau menyampaikan khotbahnya, “Tebarkanlah salam”. Lalu, para shahabat memahami bahwa jadikanlah salam tersebar diantara mereka. Maksudnya, agar salam itu, saling menyebar diantara para shahabat dalam semua perjumpaan, sekaligus sebagai tanda atau bukti kesatuan hati diantara mereka. Sehingga, keamanan dan kedamaian merata diantara penduduk di kota Madinah.

Abu Yusuf Abdullah mengingatkan kepada para shahabat lainnya, betapa pentingnya salam itu, dan begitu juga menyebarkan kepada seluruh kaum mu’minin. Shahabat itu, juga mengingatkan, bahwa Allah itu juga disebut sebagai ‘as-Salam’, dan surga adalah Daarus-Salam, begitu ujar Yusuf Abdullah, yang senantiasa mengingat apa yang disampaikan Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta’ala berfirman : “ Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) ..(an-Nisa’ : 86)

Maka, Abdullah bin Amru ibnul Ash, menuturkan bahwa seorang pria menanyai Rasululullah shallahu alaihi wassalam, “Apa yang terbaik dalam Islam?”. Kemudian beliau menjawab,”Kamu member makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal atau tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud berilah makan adalah jadilah orang yang dermawan, jangan menjadi orang yang bakhil, karena sebagaimana sabda Rasululullah shallahu alaihi wassalam, “Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka, sedangkan orang bakhil jah dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka”.

Karena itu, shahabat Addi bin Hatim, pernah menyampaikan, bahwa Rasululullah pernah bersabda, “HIndarilah neraka dengan sebutir kurma”. (HR.Bukhari Muslim). Begitulah Islam. Dan, semua ajaran Islam itu, diamalkan oleh para shahabat dengan ikhlas. Adi bin Hatim tak pernah melewatkan dirinya, setiap hari dari sedekah. Ia usai shalat Shubuh berkeliling mencari orang-orang yang fuqara’, lalu ia memberikan sedekahnya. Ketika, ia dapat memberikan sedekah kepada fakir miskin, ia seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan, yang tak terhingga, wajahnya berseri ketika ia bertemu dengan para fakir miskin dan ia dapat menyedekahi mereka. Subhanallah.

Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua malaikat turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah ganti untuk orang yang berinfak”. Malaikat yang lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ketika baginda Rasululullah shallahu alaihi wassalam, wafat, tak ada sisa harta yang dimilikinya, semua beliau berikan kepada jalan da’wah, dan para fuqara dan masakin. Hal ini, diikuti para shahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Mereka saling berlomba menginfaqkan harta mereka dijalan Allah.

Suatu ketika Rasululullah shallahu alaihi wassalam, menegur Abu Bakar, yang menginfaqkan seluruh hartanya, ketika menjelang perang Badr. Lalu,Rasululullah shallahu alaihi wassalam, bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, mengapa seluruh harta milikmu engkau infaqkan? Sedangkan apa yang akan engkau berikan untuk keluargamu?”. Dan, Abu Bakar menjawabnya, “Aku masih mempunyai Allah dan Rasul”, jawab Abu Bakar.

Begitulah generasi Shalaf terdahulu, bagaimana mereka mensikapi terhadap harta, yang mereka miliki, dan mereka tidak terpengaruh oleh harta mereka. Dan, seluruh harta mereka gunakan untuk fi sabilillah. Wallahu ‘alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar